Alkisah seorang wanita, yang menjadi guru bagi semua orang. Nenek dari ke sepuluh cucu yang berasal dari kedua putra dan putrinya. Ia telah melalui 60 tahun lebih masa hidupnya. Keriput pada wajah itu bercerita akan keseharian yang ia lalui. Lelah, letih, sakit tak pernah tampak pada paras lembutnya. 

Dia pernah berkata "aku masih mampu untuk mengambil tanggung jawab mendidik mereka". Mereka itu kesepuluh cucunya. Cucu yang selama ini hidup pada naungan yang sama dengan dirinya. Dia tahu hanya tempatnyalah yang baik untuk pertumbuhan mereka. Sebagian dari mereka ditinggal pergi orang tuanya untuk mencari penghidupan di kota lain. Kesederhanaan dan kemiskinan teman dalam keseharian. Kedua tangan rentanya terayun untuk mendidik mereka. Entah energi apa yang ia punya sehingga tak tampak keletihan melakukan semuanya itu. 

Pada umur itu, dia masih mengajar pada banyak lembaga - lembaga swasta maupun Negri. SMAN 1 dan SMA Mataram tempatnya memberikkan pelajaran agama katolik, Panti Jompo tempatnya mengajar keagamaan. serta katekisasi (pelayanan keagamaan) pada lingkungan tempat ia tinggal. Pagi buta selalu jadi awal terbaiknya, tak pernah lupa ia awali dengan doa dan berpasrah akan hari yang akan ia lalui. Jalan kaki selalu jadi sarapan paginya untuk bergerak menuju tujuan pelayanannya. 

Tenaganya tak pernah habis, ia bagai nenek peri yang punya banyak ramuan dan selalu pergi dengan sayap kecilnya. Nenek peri yang dengan kekuatan sihirnya terus semangat menjalani kehidupan tuanya. Mungkin ia minum ramuan untuk membuatnya lupa berapa umur yang telah ia lalui. Dan juga minum ramuan untuk terus sabar menghadapi cucu cucunya.

Jutaan senyuman untuk jutaan masalah...


Cucunya - cucunya ingat betul bahwa mereka selalu membuat masalah dengan neneknya, tetapi dengan mantra sihirnya, sang nenek selalu dapat mengontrol tingkah laku cucunya. Pernah suatu ketika salah sati cucu yang sedang duduk di bangku SMP membolos untuk bermain game PS kesukaannya, ia bahkan sering bersembunyi di loteng agar bisa membolos pada jam sekolah. Loteng merupakan tempat favoritnya karena disitu dia dapat bersembunyi tanpa ketahuan dan dengan pintarnya ketika jam sekolah sedang berlangsung sang cucu pasti memotong kabel telpon yang berada di loteng agar sekolah tak pernah menanyakkan kabarnya. Tetapi kabar tak sedap pasti akan berbau juga. Mungkin hal ini yang menjadikkan sang cucu akhirnya "diadili" di sekolah. Akhirnya nenek peri pun dipanggil untuk menjadi tameng bagi kelakuan cucunya. Tanpa amarah dia membawa cucunya pulang lalu tersenyum dan berkata, "jadilah terang bagi sesamamu". Sang cucu sepertinya tidak paham apa yang diucap sang nenek. Setelah itu masih banyak kenakalan lain yang dilakukan cucu - cucunya tersebut. Tetapi sepertinya sang nenek telah menanam jutaan pohon maaf dikebun belakang rumahnya sehingga terus menerus sang nenek dapat memaafkan kesalahan cucu cucunya.

Akhir hidupnya...


Ketika itu cucu cucunya sudah beranjak dewasa, bagai seorang pemabuk yang keluar dari jalan hidupnya. Mereka bak kupasan bengkoang yang hilang kotoran tanah dan kulitnya. Seseorang yang benar benar siap untuk menghadapi dunia. 

Tetapi ketika mereka sudah bisa bermimpi nenek peri sudah tak punya waktunya lagi. Hari itu dia terbaring lemas pada tempat tidurnya, hari berikutnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Sepertinya sakitnya sudah lama diderita tetapi ada hal lain yang menguatkannya. Bahkan pada detik terakhirnya nenek peri sudah mempersiapkan cara kematiannya, penguburannya, bahkan ambulan pun dibiayai oleh dirinya sendiri.

Nenek Peri Telah Pergi...


Nenek peri telah pergi. Meninggalkan milyaran kenangan yang akan dikenang setiap orang yang dikenalnya. Terkubur 1,5 meter dari atas tanah, terdiam dan tak bertenaga lagi. Semua cucunya merasa kehilangan, karena semua kesalahan yang mereka lakukan belum dapat mereka ganti dengan kebahagiaan yang harusnya mereka berikkan. Semua orang bertanya apa yang membuatnya mampu berjalan sejauh ini untuk menjalani hidup tua bersama jutaan masalah yang dihadapinya ? Kemudian salah satu cucu menemukkan selembar kertas pada meja kerja nenek peri tersebut. Hal itu bertuliskan nama cucu cucunya dan anak anaknya terselip dalam buku doa hariannya. Dalam tiap hari hidupnya bahkan tak ada seharipun ia tidak mendoakkan mereka, cintanya yang menjadi sihir selama ini. Bahkan ia menutup mata kepada semua kesalahan anak dan cucunya. Manusiakah dia ? Bukan dia itu peri yang mungkin sekarang sedang duduk disamping ilahi membacakkan doanya untuk kami orang orang yang dicintainya. 

Dedicated to my beloved grandma 
-Aloysia Tri Ratmini-

Jakarta, 17-3-2015
CA


SEMARANG - Empat Siswa SMK PIKA Semarang berhasil meraih prestasi di tingkat internasional dengan meraih medali emas dan perak dalam ajang Worldskill Internasional ASEAN IX di JCC Jakarta, 15-17 November.
Mereka adalah Wahyu Kuntarbiko yang mendapatkan medali emas di bidang joinery (membuat kusen), Cornelius Ardian meraih emas di bidang cabinet making (membuat furnitur), Antonius Fafan bidang joinery memperoleh medali perak, dan Steven Yulianto meraih perak bidang cabinet making.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelatihan Industri Kayu (PPPIK)-PIKA RN Among Subandi mengatakan, sebelum mengikuti ajang itu, mereka harus mengikuti seleksi dari tingkat kota/kabupaten, tingkat provinsi, lalu tingkat nasional. Keempat siswa SMK PIKA itu lolos dan berhasil mewakili Indonesia.
”Untuk mengikuti ajang tersebut, usia maksimal siswa 22 tahun. Mereka juga harus mengikuti pendidikan dan pelatihan selama sembilan bulan di PIKA,” jelasnya didampingi trainer lain Sugeng Rahayu di kampus Jl Imam Bonjol Semarang, kemarin.
Prestasi itu, lanjut Among, merupakan kebanggan tersendiri bagi Jawa Tengah mengingat ajang tersebut diikuti oleh  negara-negara yang industri perkayuannya cukup maju. Totalnya sembilan negara yang ikut dalam ajang itu, antara lain Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Laos.
”Mereka digembleng di PPPIK dengan persyaratan yang sangat ketat. Karena selain kemampuan, anak-anak muda ini juga memiliki semangat yang luar biasa dalam mengikuti kompetisi ini,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, para juara di bidang cabinet making dan joinnery itu pada Juli 2013 akan mengikuti seleksi untuk tampil di Kota Leipzig, Jerman untuk lomba lebih tinggi, yakni tingkat dunia (world skill). Namun mereka tetap harus menjalani seleksi kembali bersama siswa dari bimbingan Kementerian Pendidikan Nasional di bidang yang sama. (G2-60)





Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts